Kairo – Senator AS Barack Obama mewakili sebuah fenomena yang telah menarik perhatian dunia dan memikat pemikiran Muslim seluruh dunia ketika ia melaksanakan sebuah kampanye penuh semangat untuk menjadi presiden Amerika Serikat berikutnya. Terlepas dari perdebatan panas kampanye dan beberapa retorika kontroversial mengenai Islam, sebagian besar warga Muslim tetap bergairah dengan pemilihan umum dan telah menjadi penggemar berat Obama.
Tingkat dukungan bagi seorang kandidat presiden Amerika sebesar ini tidak pernah terjadi sebelumnya dalam dunia Muslim. Kenyataan bahwa ini datang di tengah adanya sebuah perasaan yang hampir seragam tentang penolakan dan kemarahan terhadap kebijakan luar negeri AS – khususnya di Irak dan Palestina – membuatnya semakin penting dicatat.
Penjelasan sederhana adalah bahwa banyak warga Muslim melihat alasan baru untuk berharap terhadap pendekatan politik Obama dan para penasihatnya. Semangatnya yang nyata untuk menggalang dukungan lebih besar bagi kebijakan AS, dan bahkan berbicara kepada para “musuh” Amerika, merupakan alasan untuk optimis. Bayangkan apa jadinya politik dunia di Irak, atau Sudan, atau Afghanistan, jika visi seperti Obama telah mempengaruhi kepemimpinan AS sebelumnya.
Sebagai seorang Muslim Arab di Mesir yang dipengaruhi oleh kebijakan luar negeri AS, saya percaya bahwa pendekatan Obama mungkin membantu menyelesaikan permasalahan yang menumpuk antara Muslim dan Amerika Serikat yang semakin memburuk sejak serangan teroris 11 September. Teknik-teknik baru dan lebih kreatif untuk berurusan dengan para ekstremis dan bukannya metode-metode kontroversial yang digunakan pemerintah AS sekarang, dapat membantu memberikan Al Qaeda dan kelompok-kelompok sejenis, sebuah alasan untuk merekrut anggota-anggota baru. Kemudian, mungkin, para ekstremis akan kehilangan pembelaan yang menjadi bahan bakar mesin kejahatan mereka dan membuat mereka menghancurkan orang-orang tak berdosa.
Tentu saja, ada orang-orang dalam dunia Muslim yang menentang Barack Obama. Mereka berpendapat bahwa kebijakan AS tidak akan berubah dengan adanya seorang presiden baru. Kepada mereka saya katakan bahwa Obama telah membuktikan bahwa ada ruang untuk mengguncangkan perahu; ia menentang keputusan untuk menyerang Irak dan membuat rekomendasi nyata dan logis bagi penarikan mundur pasukan-pasukan AS.
Muslim yang sinis berpendapat bahwa semua politisi Amerika, termasuk Obama, bersikap mendua terhadap Israel dengan mengorbankan bangsa Arab. Tetapi kita harus membedakan antara dukungan seorang kandidat bagi sebuah negara Yahudi dan suatu bias yang tak terpisahkan terhadap hal tersebut. Persahabatan AS dengan Israel tidak harus menjadi sebuah ancaman, khususnya jika hal tersebut menghasilkan sebuah kedudukan yang lebih aktif terhadap perwujudan kebijakan-kebijakan yang adil dan seimbang bagi seluruh dunia Arab.
Dan kemudian ada sebuah perdebatan tentang kemurtadan. Ketika Obama digambarkan sebagai seorang Muslim yang mungkin murtad, banyak kalangan Muslim yang bereaksi dengan keheranan dan rasa ingin tahu. Obama telah mengatakan bahwa sejak awal ia tidak pernah menjadi seorang Muslim, namun sebagian orang menganggapnya demikian dikarenakan ayahnya. Tetapi bagi saya, jelas bahwa Islam adalah sebuah pilihan yang bebas, bukan sebuah beban keturunan.
Kampanye-kampanye internet lain memanfaatkan tuduhan hubungan Muslim Obama dengan menggambarkan Amerika sebagai sebuah “negara rasis” yang para warga negara dan politisinya tidak akan pernah memenangkan Obama karena ia seorang berkulit hitam dan memiliki akar Muslim. Upaya tersebut menyesatkan, tetapi walau demikian menghasilkan simpati lebih besar dari dunia Muslim terhadap sang kandidat.
Penolakan Obama pernah menjadi seorang Muslim tidak berarti ia melihatnya sebagai sebuah tuduhan; sebaliknya, ia menjaga jarak dari tuduhan-tuduhan kebohongan dan kemunafikan. Sudah tiba saatnya untuk bergerak dari perdebatan yang tidak perlu ini dan menilai kandidat presiden yang menjanjikan ini berdasarkan pandangan-pandangan politiknya dan kemampuannya untuk menyeimbangkan kepentingan-kepentingan global Muslim dengan para pemilih dan kawan-kawannya.
Dengan mengembangkan dialog dengan negara-negara Muslim seperti Suriah dan Iran, dan membangkitkan kembali upaya-upaya diplomatik AS, Obama akan membuka pintu-pintu yang telah tertutup – dan terkunci – selama beberapa tahun terakhir. Merupakan kepentingan semua negara Muslim bahwa presiden AS mempunyai pendekatan konstruktif, bahkan sambil mempertahankan persahabatan erat dengan Israel dan kekuatan-kekuatan yang mendukungnya di Amerika Serikat dan luar negeri. Dalam upaya mengejar politik yang rasional, inklusif, dan kreatif, Obama dapat tetap berperan efektif sambil mengatasi rintangan-rintangan sepanjang jalan menuju perdamaian dan koeksistensi global.
###
Ditulis: Yasser Khalil
Yasser Khalil adalah seorang peneliti dan wartawan Mesir. Artikel ini, diterjemahkan dari bahasa Arab, ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan awalnya terbit di Christian Science Monitor.
Sumber: Kantor Berita Common Ground
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
DIarsipkan di bawah: Agama, Berita, Politik, Sosial, Sosial | Ditandai: Artikel, Barack Obama, Berita, Dunia Islam, Islam, Muslim dan Barat, News, Obama







kapan ya indonesia ada gebrakan seperti obama ituhhhh
kalo ada pemimpin sekarang yang mau nyalonin jadi presiden….ada sih menurut gue yang kapabel dan agaknya pantas. (jika dilihat dari keberanian-nya)…
Sosok itu adalah Sutiyoso.. he he he he he he he he he he he
untuk ngatur orang indonesia yang buanyak jumlah penduduknya dan heterogen. dia sosok yang berani mengambil keputusan meski dihujat sana-sini.
Lihat Jakarta pada saat dia mimpin….
sudah saatnya bagi generasi muda untuk memimpin bung…jangan dikasih yang uzur-uzur